Perjalanan Ke Pabrik Gula Bunga Mayang
Ditulis oleh: Monica RM-LiputanFransita (Bandar Lampung)
Perkenalkan teman-teman, kami ber-tiga adalah Reporter Cilik dari SD Fransiskus 1 Tanjungkarang-Bandar Lampung.
Nama kami:
- Yosefhine Indah Aprilyani
- Mega Silvia
- Theresia Roselinda Permata Dewi
Kami telah mengikuti Pelatihan sebagai Reporter Cilik yang diselenggarakan oleh Lampung Post.
Kali ini kami mendapat kesempatan mengunjungi Pabrik Gula Bunga Mayang. Kami bertiga berangkat dari sekolah didampingi Suster Emma (Kepala Sekolah) dan Ibu Rinda serta Mas Reza dari Lampung Post.
Pada Hari Selasa, 19 Januari 2010, kami bertiga mengunjungi Pabrik Gula Bunga Mayang di Lampung Utara. Pabriknya besar sekali. Kami merasa senang wawancara di pabrik itu.
Kami diterima dengan baik oleh Bpk. Ir. Ahmad Nasulian Arifin, M.M. Beliau adalah Manager di Perusahaan BUMN tersebut. Kami banyak mendapatkan informasi dan pengalaman baru dengan kunjungan kami kali ini.
Pabrik Gula Bunga Mayang didirikan sejak tahun 1982, di lokasi yang berdekatan dengan sungai dan tanahnya datar, jumlah pegawai yang bekerja saat ini ada 1.500 karyawan (karyawan tetap) yang terbagi dalam bidang menanam, mengolah dan merawat tebu, sedangkan untuk memanen tebu ada 6.000 orang (karyawan etap).
Sumber bahan baku didapat dari kebun yang diolah dengan baik, pertama-tama tanahnya diolah menggunakan traktor kemudian dibuat lubang berbentuk V sedalam 30cm. Sesudah itu ditanam bibit tebu (yang sebelumnya ditanam dengan media agar-agar) dan tidak lupa disiram dan diberi pupuk, seperti pupuk kompos dari ampas tebu dan KKA, dengan demikian hasilnya akan baik pula. Mesin-mesin produksi didatangkan dari luar negeri seperti dari Australia, Jepang, Jerman dan Inggris.
Proses Pengolahan Tebu Menjadi Gula
Pertama-tama tebu ditebang setelah berumur 12 bulan, lalu diikat, setelah itu diangkut lalu diperas dengan cara digiling lalu dikristalkan. Saat proses tersebut akan keluar-lah tetesan gula. Tetesan gula tersebut bisa dibuat micin atau penyedap rasa. Dan ampasnya bisa juga dijadikan bahan bakar mesin pabrik.
Di pabrik ini pernah terjadi kecelakaan tetapi juga pernah mendapat penghargaan pada tahun 2008, dengan sebutan zero acciddent.
Sistem Kerjasama Antara Petani Dan Pabrik
Petani menanam tebunya di sekitar lokasi pabrik ini. Untuk modalnya mereka bisa pinjam dari Bank dengan izin pabrik ini juga. Setelah menggiling di pabrik ini, 34% untuk upah kami, dan sisanya 66% untuk si petani.
Hasil Produksi Tiap Hari
Menggiling 6000 ton tebu. Yang menjadi gula hanya 80-90% saja. Jadi setiap harinya 500 ton gula.
Keistimewaan gula dari pabrik ini sama seperti pabrik gula yang lain. Hanya gulanya lebih bersih dan berkualitas baik. Jika di pasar ditemukan gula yang agak kemerahan warnanya memang gula itu lebih manis, tapi proses pengolahannya belum sempurna. Juga terbuat dari gula bit. Usaha untuk meningkatkan hasil produksi tetap dilakukan di laboratorium untuk diteliti.
Fungsi Laboratorium Yang Ada
Laboratorium Tanah untuk menganalisa kandungan hara didalam tanah.
Laboratorium Pabrik untuk kualiti kontrol saat pabrik menggiling.
Laboratorium Hama tempat untuk menampung telur lalat yang akan menjadi predator.
Jalan-Jalan Di Pabrik Gula
Pada saat di jalan kami melewati jalan berlumpur. Disamping kanan kiri kita terdapat banyak tebu yg ditanam disekitar pabrik. Kebun tebunya luas sekali lho, seperti karpet hijau. Pada saat kami melihat ke arah ujung kebun, hanya ada tebu dan tebu. Kami (sih) sempat bingung dimana pabriknya tetapi akhirnya kami menemukan pabrik itu juga.
Ternyata jadi wartawan cilik itu harus penuh perjuangan.
Akhirnya kami tiba di pabrik, kami segera mewawancarai Bapak Manager. Setelah wawancara kami mengunjungi beberapa laboratorium yang berada disana. Kami melihat ada hewan kecil, seperti semut dan ulat.
“Hiii…”, kami (sih) sempat jijik tetapi lucu juga kok.
Kami juga mengunjungi laboratorium yang lain. Di situ ada sebuah ruangan tempat menyimpan bibit tebu.
“Huuu…suhunya dingin sekali!”
Kami juga diajari untuk membuat bibit tebu lho?
Setelah puas belajar di laboratorium, kami menaiki traktor. “Waouw! Besar sekali traktornya!”
Pada saat berada di atas traktor kami sempat takut karena getarannya terasa sekali. Yang mengemudi traktor tersebut namanya Bapak Wartono. Oh iya teman-teman, bahan bakar kendaraan ini adalah solar.
Setelah itu kami berfoto di depan pabrik tersebut dan setelah itu kami diberi gula lho?.
Kalian pasti iri dengan kami.
Setelah mendapat oleh-oleh dari pabrik, tak lupa kami berterima kasih kepada mereka. Sanking asiknya kami bermain sambil wawancara, tidak terasa hari sudah sore. Kami pun harus pulang ke Tanjungkarang-Bandar Lampung.
Sepanjang perjalanan pulang, kami sempat bercanda ria dan tertidur pulas. Tiba-tiba kami dibangunkan dan ternyata untuk makan malam, teman-teman. Oya, kami juga ditraktir makan bakso.
“Hmmm…nyamnyam sedapnya!”
Setelah kenyang makan bakso, kami melanjutkan perjalanan pulang dan kami tidur lagi. Ehhh, tak terasa kami telah tiba di Kantor Lampung Post dan kami harus berpisah dengan Tim Lampung Post. Di kantor tersebut kami harus berganti supir dan setelah itu kami pun diantar ke rumah kami masing-masing untuk istirahat.
Wah, pengalaman ini menjadi pengalaman yang berharga dan tak mungkin kami lupakan.

Maaf Itu Perusahaan BUMN dari PTPN VII tepatnya…..
makasihhh