Home » Sorot Mata

Surat ‘Keling’ Untuk Papa Di Surga

Submitted by xavetafransitanjungkarang on February 14, 2010 – 2:12 pmNo Comment
Surat ‘Keling’ Untuk Papa Di Surga

Judul Asli: SURAT UNTUK PAPA DI SYURGA

Oleh: Lia Imelda Fajri Siregar-Alumni Xaverius Tanjungkarang

Assalamuallaikum,

Dear Papa…

Selamat Ulang Tahun ya, Pa.

12 Februari 2010 ini adalah Hari Ulang Tahun yang ke-empat dimana saya tak dapat mencium Papa lagi.

Ehm…biasanya Papa minta itak dan nasi upah-upah berupa nasi dan telur garam. Satu kenangan kebiasaan dari Papa-ku.

Dear Papa…

Ini aku, Si Keling Kecil, Papa.

Nanti sore jangan lupa ya, Pa. Kita sudah berjanji akan ke kolam ikan di depan Mesjid Raya Medan. Minggu lalu kita sudah ke Taman Ria, Pa.

Oya Pa, sekarang Taman Ria sudah menjadi Carrefour. Sekarang permainannya sudah berbeda, sudah tidak ada lagi ‘sampan-sampanan’, ‘kuda pusing’ masih ada, Pa tetapi kecil. Kalau kolam ikan yang berada di depan Mesjid Raya pun sudah tambah cantik sekarang.

Hahaha…Papa pasti tertawa kan? Sudah pasti Papa tau kalau aku sangat doyan kerupuk jangek dan membeli balon.

Ya, sore ini aku akan bergegas mandi dan pakai baju yang cantik. Pegangin aku ya, Pa. Aku seringkali dicubit sama mereka, tante dan om yang lewat di depan kita. Mereka bilang aku si ‘pipi gembul’.

Betul ya, Pa? Jangan sembunyi.

Dear Papa…

Ini aku, Si Keling Remaja, Papa.

Besok adalah malam minggu, aku boleh malam minggu-an, kan Pa?

Ya, seperti biasa, aku dirumah saja kok, Pa. Enggak kemana-mana.

Aku teringat kata-kata Papa disaat ada beberapa pria kecil sok dewasa mendekati anak manja-mu ini, Pa.

“Li, selop Papa mana? Rokok Papa mana?”

Dan yang lebih tragis lagi jika ada seseorang yang mendekati ku dan pastinya Papa tidak menyukainya maka Papa akan berkata, “Li, sudah malam begini, ayam kita kok belum pulang sih? …krekk..keeek…sambil terdengar dentuman bunyi yang agak keras.

Wah, sadis banget sih Papa! Anak orang dikatakan ayam.

Dear Papa…

Aku masih ingat di saat Papa mengantar ku untuk pergi dinas malam ke rumah sakit. Aku yakin pada saat itu Papa sudah sangat mengantuk dan akan pergi tidur.

Dengar sabarnya seorang Papa akan berkata, “Hayo, Papa antar. Sudah malam. Nanti kamu sakit”.

Tak jarang pula jika Papa selalu membawakan-ku nasi bungkus untuk makan di siang hari. Apalagi jika aku sedang jaga malam, Papa akan membawakan-ku nasi bungkus atau hanya sekedar cemilan di sore hari.

Sudah pasti dengan bangganya ku sambut Papa membawa tas plastik kresek yang berisi panganan. Apapun itu.

Aku sangat tahu bahwa Papa sering mencuri waktu kerjanya hanya untuk mengantar makanan bagi anak semata wayangnya.

Jika ada perkumpulan keluarga ataupun teman-temannya maka Papa akan selalu mengatakan, “ini anak perempuan ku, satu-satu nya, si keling”.

Kata-kata tersebut selalu dilontarkan dengan kebanggaan sambil menepuk pundak ku. Aku pun tersipu.

Dear Papa…

Aku ingat, Papa tidak pernah mengeluh di depan ku meskipun dia kelihatan sangat lelah dan penat. Papa akan selalu datang layaknya seorang ‘Zorro’ dengan pedang kesatrianya. Tanpa keluhan!

“Nak, hidup harus kita nikmati. Jika kita tak punya apa-apa untuk di sedekahkan maka bersedekahlah dengan senyuman.

Dengan senyum sudah dapat membuat orang lain senang. Setiap orang memiliki masalah hidup, tinggal bagaimana dan seperti apa kita mau menyikapi masalah tersebut. Jika kita sudah tidak sanggup lagimenghadapinya maka berucaplah, “LA HAULA QUATA ILLABILLAH”.

Dear Papa…

Pada saat aku jatuh dan merasa tak berdaya, Papa selalu datang menguatkan dengan kalimat, “Enggak usah difikirin. Tak ada itu semua. Senyum, Lia. Senyum…Senyumlah, nang, agar kelak kau menjadi bidadari ku di surga”.

Dear Papa…

Ini aku, Si Keling Papa yang telah dewasa.

Maafkan Lia, Pa, yang belum dapat membalas semua kebaikan Papa. Lia belum dapat berbakti sepenuhnya kepada Papa. Di saat Papa sakit, Lia sibuk dengan dunia Lia. Di saat renta tubuh Papa, Papa akan tetap selalu mendukung dengan berkata, “Buat Laporan dan kerja yang baik, nak. Papa tidak izinkan jika keturunan Papa harus menyogok untuk meraih prestasi. Kamu harus berusaha dan jangan lupa dengan niat “LILAHITA ALLA”.

Dear Papa…

Aku Lia, Si Keling Papa yang telah menjadi seorang Dokter. 17 Agustus 2008 yang lalu aku menjadi Dokter Teladan Tingkat Nasional, Indonesia, Pa.

Aku pergi ke Istana Negara, Pa.

Aku disambut dalam sebuah Acara Kenegaraan dan menjadi Tamu Negara selama satu minggu, Pa.

Aku tahu Papa melihat kejadian ini. Papa pasti bangga dengan putri kecil-mu ini, kan Pa?

Alhamdullilah, Pa, ke dua cucu-mu pun dapat rangking satu di kelasnya.

Papa harus tahu bahwa semua ini adalah Hadiah Si Keling untuk Papa seorang.

Dear Papa…

Maafkan, Si Keling Papa ini karena belum sempat membawa Papa pindah ke Aceh.

Pertemuan terakhir ku bersamanya, Papa hanya berkata sambil mengelus kepala ku, “Jika Papa sudah sembuh, Papa akan pindah ke Aceh ya, Li? Papa ingin meninggal di dekat mu, nang”.

Sungguh tenang, nyaman, dan damai hati ku di saat Papa berkata demikian sambil mengelus kepala-ku.

Entah kenapa hati ku resah pada saat malam minggu itu. Aku tidak tahu apa yang membuat ku tidak dapat terlelap padahal Hari Senin depannya aku sudah berjanji dengan BRR untuk berangkat ke Banda Aceh. Tetapi keresahan ku tidak terbendung lagi untuk pulang ke Medan. Setelah suami-ku menginjinkan maka aku berangkat pulang ke Medan pada Hari Minggu pagi.

Sepanjang perjalanan terbayang masa indah bersama Papa. Teringat akan Papa yang menggendong-ku, membuat ‘upah-upah’ pada saat aku berulang tahun, mengelus kepala-ku jika aku dalam keadaan gundah. Semua bayangan itu berkelebat di depan mata.

Sesampainya di Medan, ku sempatkan diri ke Pringgan untuk membeli pembalut kecil bagi anak-ku. Tak lupa Sate Memeng kesukaan Papa juga ku belikan.

“Mbak, sabar ya. Papa kita sudah tidak ada. Sabar ya, mbak”.

Aku terbengong dan terkulai lemas di tangga Ramayana. Pembalut dan sate yang berada di tangan-ku lepas begitu saja.

Aku kehilangan Papa?

Aku tidak memiliki Papa lagi?

Dimana Papa-ku yang romantis itu?

Dimana Papa-ku yang tidak pernah menunjukkan kesedihannya kepada orang lain?

Dimana Papa-ku yang selalu tersenyum?

Dimana sosok Papa yang selalu tidak menginginkan putrinya menjadi congkak?

Dear papa…

Walaupun Lia, Si Keling Papa ini sudah tidak dapat lagi memberikan secangkir capucino dan sebungkus Sate Memeng

kesukaan Papa tetapi aku dapat mengirim doa untuk-mu, Papa-ku.

Selamat Ulang Tahun ya, Pa. Semoga Papa bahagia disana.

Insya Allah, aku, suami beserta cucu Papa akan selalu mendoakan Papa.

Insya Allah, doa ini akan menerangi di alam, Papa.

Maafkan Lia, Pa, karena hanya ini yang dapat aku lakukan.

Maafkan Lia, Si Keling Papa ini.

Selamat jalan Papa-ku sayang.

Semoga suatu saat kita dapat berjumpa lagi.

Maafkan Lia, Si Keling ‘Putri’ Papa ini.

Bagi teman-teman yang masih memiliki orang tua, sayangilah mereka sebelum maut memisahkan kita.

Wassalamuallaikum

Lia Keling-12 Februari 2010

Leave a comment!

Tulis komentar anda, atau trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

Silahkan menggunakan tag:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Web ini telah didukung oleh Gravatar. Untuk menampilkan Photo anda silahkan register di Gravatar.